News BreakingNews
Live
wb_sunny

Breaking News

KPU Prabumulih Bagi Tiga Zona Kampanye

KPU Prabumulih Bagi Tiga Zona Kampanye

PRABUMULIH, KabaRakyatsumsel.com- Pada 15 Februari hingga 23 Juni mendatang merupakan masa kampanye pasangan calon (paslon), untuk mensosialisasikan pencalonannya di Pilkada Serentak tahun ini.

Meski, Prabumulih calon tunggal. Tetapi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap menetapkan zona kampanye yang bakal dilaksanakan paslon tunggal. Tak lain, paslon petahana Ir H Ridho Yahya MM (Ridho) dan H Andriansyah Fikri SH (Fikri).

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), M Takhyul SIP melalui Komisioner Divisi Partisipasi Masyarakat (Parmas) dan Sumber Daya Manusia (SDM), Titi Marlinda SE MSi menerangkan, kalau pembagian zona kampanye dibagi tiga wilayah.

Tujuan, pembagian zona tersebut. Tak lain, untuk memudahkan pengawasan kampanye yang dilakukan paslon. Supaya, berjalan aman dan tertib hingga akhir masa kampanye.

"Zona I, meliput Prabumulih Timur dan Prabumulih Selatan. Kampanye bisa dalam bentuk rapat umum atau rapat terbatas," kata Titi saat di konfirmasi, Jumat (16/2/2018).

Lalu, bebernya Zona II mencakup Prabumulih Utara dan Cambai. Sedangkan, Zona III terdiri atas Prabumulih Barat dan Rambang Kapak Tengah (RKT). Kata dia, karena zona kampanye sudah ditetapkan.

"Kita minta pembagian zona kampanye ini dipatuhi oleh paslon dan tim suksesnya," wantinya.

Ia melanjutkan, selama masa kampanye paslon dan tim sukses diperbolehkan memasang alat peraga kampanye (APK). Dan, APK telah dicetak dengan biaya KPU dan diserahkan kepada paslon untuk dipasang.

"Di zona tersebut sudah kita tentukan lokasi pemasangan APK. Dan, lokasinya sudah kita serahkan kepada paslon dan tim sukses," ujarnya.

Rincinya, untuk pemasangan baleho hanya 3 lembar di setiap kelurahan. Lalu, umbul-umbul sebanyak 7 lembar dan baleho sebanyak 5 lembar.

"Kalau mau ditambah oleh paslon dan tim sukses, boleh saja tetapi tidak lebih dari 150 persen," terang Titi.

Terpisah, paslon wako, Ir H Ridho Yahya MM menerangkan, kalau sifat kampanye yang dilakukan bukan dialog. Tetapi, lebih ke pesta rakyat untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Sekaligus, untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat, supaya datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Kalau sifatnya dialogis, kita yakin masyarakat akan jenuh. Nah, kalau hiburan atau pesta rakyat tidak," ucapnya. (hd/bmg)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.